Mari Berqurban


Idul Qurban 1434 H

Idul Qurban 1434 H

MDC Of Gema Nurani - Qurban termasuk ibadah yang utama dalam ajaran islam, dalam Alqur-an surat Alkautsar Allah SWT mengungkapkan kata qurban dengan menyandingkan secara langsung dengan kata sholat :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَر

Maka sholatlah kamu karena Tuhanmu dan qurbanlah (QS : Alkautsar : 2)

Selain itu dalam Alqur-an juga, qurban merupakan salah satu barometer ketaqwaan seseorang, karena Allah dengan sangat tegas menyatakan,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِين ….

…sesungguhnya Allah hanya menerima (Qurban) dari orang-orang yang bertaqwa (QS : Almaidah : 27)

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُم

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridloan Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya (QS : Alhajj : 37)

Qurban itu sendiri, sebagaimana dikemukakan oleh Arrogib Ashfahani dalam kitabnya Mu’jam Mufrodat, berasal dari kata Qorib yang berarti dekat. Adapun kata qurban bermakna sesuatu yang mendekatkan diri kepada seseuatu. Kalau disebutkan qurban malik; berarti sesuatu yang mendekatkan diri pada Raja. Dalam Alqur-an ada disebutkan qurban Alihah, berarti sesuatu yang mendekatkan diri, yang dalam hal ini Tuhan-tuhan/Alihah selain Allah. Lebih lengkap firman-Nya :

فَلَوْلَا نَصَرَهُمُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ قُرْبَانًا آلِهَةً بَلْ ضَلُّوا عَنْهُمْ وَذَلِكَ إِفْكُهُمْ وَمَا كَانُوا يَفْتَرُون

Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka, bahkan Tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka, itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan (QS : Al-Ahqof : 28)

Namun secara istilah, qurban ditujukan pada hewan sembelihan, tentunya sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dua ayat yang menginformasikan itu :

الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ عَهِدَ إِلَيْنَا أَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُولٍ حَتَّى يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ قُلْ قَدْ جَاءَكُمْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِي بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالَّذِي قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين

 (yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan; sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang Rosul, sebelum dia mendatangkan kepada kami qurban yang dimakan api, Katakanlah ; sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapaorang Rosul sebelumku, membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orang-orang yang benar (QS : Ali Imron : 138)

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِين

Ceritakanlah pada mereka kisah kedua anak Adam (Habil dan Qobil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil), ia berkata (Qobil) : aku pasti membunuhmu, berkata (Habil) : sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa (QS : Almaidah : 27)

Tidak hanya orang kaya

Dari uraian makna qurban diatas jelaslah bahwa pelaksanaan ibadah qurban tidak ditentukan oleh kaya dan tidaknya seseorang, melainkan oleh sejauhmana keinginannya mendekatkan pada Allah,  kemampuan berqurban juga tidak ditentukan oleh seberapa banyak harta yang dimiliki seseorang, melainkan sejauhmana kwalitas ketaqwaan seseorang. Karena pada faktanya banyak orang kaya tapi tidak berqurban bahkan tidak pernah berqurban, sebaliknya juga, banyak orang yang hidupnya tidak kaya, tetapi ketaqwaannya senantiasa menuntunnya untuk berqurban.

Kalau kita perhatikan di Indonesia, hampir tidak ada perabot rumah tangga, kendaraan dan barang-barang elektronik yang tidak diusahakan untukdibeli oleh masyarakatnya. Lebih tingginya lagi rumah idaman atau apartemen mewah. Semua itu tidak jarang juga dimiliki dengan cara kredit. Sehingga jadilah pada umumnya masyarakat berstatus kreditor tanggung; disebut miskin tidak, karena memang pada faktanya mereka tidak kredit untuk kebutuhan yang sangat mendesak seperti halnya orang miskin, disebut kaya juga tidak, karena memang kredit mereka hanya untukhal-hal yang tidak terlalu mewah, tidak seperti halnya kreditor dari kalangan atas yang mengajukan kredit untuk usaha-usaha yang besar.

Semuanya itu berawal dari impian, impian akan materi. Coba banyangkan bagaimana jadinya kalau seandainya yang jadi impian itu adalah “taqwa” yang salah satu caranya adalah “qurban”, pasti yang akan terjadi juga tidak jauh beda, segala macam upaya akan diusahakan untuk bisa berqurban walau harus dengan cara kredit sekalipun, demi mencapai impian kesejahteraan hidup.

Maka dari itu sudah selaknya kita semua berintrospeksi, tentunya kita yang tidak terkategorikan faqir miskin dimana salah satu kriterianya mampu kredit untuk keperluan yang tidak terlalu primer. Benarkah kita tidak mampu berqurban, ataukah justru tidak mau karena tidak adanya impian mencapai taqwa. Do’a dan usaha yang kontinyu dengan demikian harus terus diupayakan agar kita semua masuk kedalam golongan orang-orang yang mempunyai impian taqwa

Arisan termasuk perpindahan milik yang tidak disyariatkan, hukumnya meragukan lebih dekat kepada haram, karena harta yang dimilki oleh pemenang tidak jelas statusnya; tidak termasuk member (anggota), menabung, atau meminjam, apalagi shodaqoh. Harta uang atau barang (misalnya kambing) pada tahun sekarang dan tahun yang lalu itu berbeda sedangkan membayar arisan akan sama. Apa yang dicari oleh para peserta arisan qurban?

Apakah pahala? Atau ria, karena ingin disebut bahwa kambing ini adalah qurban si anu atau milik si ana.

Pada zaman Jahiliyah yang disebut maisir adalah beberapa orang (misalnya 7 orang) membeli seekor unta dengan saham harga yang sama, misalnya masing-masing dua juta  jadi 14 juta,  unta tersebut disembelih , lalu diadakan undian ; siapa yang namanya keluar lebih dahulu ia akan mendapat bagian daging yang paling banyak , demikian seterusnya sampai yang terakhir keluar namanya akan dapat bagian yang paling sedikit. Daging-daging unta itu tidak dimakan sendirian atau dijual, melainkan dibagikan kepada fakir miskin. Para peseta maisir tidak mendapatkan keuntungan apa-apa selain mendapat pujian dari mereka yang menerima. Itulah maisir atau judi yang diharamkan Allah.jadi qurban dengan cara arisan termasuk maisir.

Jangan memaksakan diri untuk melakukan yang sunnah. Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuan dirinya. Qurban hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang mendekati wajib). Tidak ada ancaman bagi yang tidak berqurban. Adapun hadits yang berbunyi :

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةً وَلَم يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا ( رواه احمد و ابن ماجه)

Siapa saja yang mempunyai kelapangan harta, tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah ia dekat-dekat ke tempat sholat kami (HR : Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadits tersebut dinyatakan dlo’if, karena pada sanadnya terdapat rowi yang bernama Abdullah bin Ayyas yang dinilai tidak kuat menurut para ahli hadits.

عَنْ جَبَلَةَ بْنِ سُحَيْمٍ اَنَّ رَجُلًا سَأَلَ ابْنَ عُمَرَ عَنِ الْاُضْحِيَةِ اَوَاجِبَةٌ هِيَ ؟ فَقَالَ : ضَحَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمُسْلِمُوْنَ ، فَأَعَادَهَا عَلَيْهِ فَقَالَ : اَتَعْقِلُ ضَحَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمُسْلِمُوْنَ ، قَالَ اَبُو عِيْسَى هَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ ، وَالْعَمَلُ عَلَى هذَا عِنْدَ اَهْلِ الْعِلْمِ اَنَّ الْاُضْحِيَةَ لَيْسَتء بِوَاجِبَةٍ وَلَكِنَّهَا سُنَّةٌ مِنْ سُنَنِ رَسُوْلِ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم

Dari Jabalah bin Suhaimin, bahwa seseorang bertanya kepada ibnu Umar tentang hukum udhiyah, apakah wajib ? kata ibnu Umar ra : Rosulallah SAW dan kaum muslimin menyewmbelih udhiyah. orang itu mengulangi pertanyaannya, jawab ibnu Umar ra ; apakah kamu mengerti ? Rosulallah SAW dan kaum muslimin menyembelih udhiyah.kata Imam Tirmidzi yang meriwayatkan hadits shohih ini, karena mengamalkan hadits ini ahli ilmu berpendapat bahwa udhiyah itu tidak wajib, melainkan sunnah Rosulallah SAW

Kata Ibnu Hajar Asqolany : tidak ada keterangan yang shohih dan shorih (jelas) dari para shohabat yang menyatakan bahwa qurban itu wajib, namun sebagai orang yang mampu dan mempunyai keluasan harta maka selayaknya berqurban, apalagi masyarakat sekitarnya sangat mengharapkan. Sekalipun tidak wajib, qurban mempunyai nilai shodaqoh yang besar, karena dapat menghibur dan menggembirakan kaum muslimin khususnya fakir miskin.

Bagi orang yang tidak mampu berqurban namun ingin mendapat pahala, cukuplah dengan membantu penyelenggaraan qurban atau mengerjakan yang sunnah lainnya ;

 

عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اُمِرْتُ بِيَوْمِ الْاَضْحَى عِيْدًا جَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ الْاُمَّةِ ، قَالَ الرَّجُلُ اَرَاَيْتَ اِنْ لَمْ اَجِدْ اِلَّا اُضْحِيَة اُنْثَى اَفَأُضَحِّى بِهَا قَالَ لَا وَلَكِنْ تَأْخُذُ مِنْ شَعْرِكَ وَاَظْفَارِكَ وَتَقُصُّ شَارِبَكَ وَتَحْلِقُ عَانَتَكَ فَتِلْكَ تَمَامٌ اُضْحِيَتِكَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ (رواه ابوا داود)

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash, bahwa Rosulallah SAW bersabda : aku diperintah pada hari adha iydan (untuk merayakannya) yang Allah jadikan untuk umat ini. Seseorang bertanya : bagaimana pendapat tuan jika tidak punya sembelihan selain udhiyah betina kemudian saya sembelih ia? Jawab beliau : tidak, tetapi potonglah rambutmu, kukumu, pendekan kumismu, cukur bulu ketiakmu, itulah kesempurnaan udhiyahmu disisi Allah azza wajalla (HR : Abu Daud)

Oleh : MDC Dept. of Gema Nurani Integrated and Holistic Islamic School

North Bekasi